Perubahan teknologi membuat kebutuhan skill di dunia kerja terus berkembang. Skill yang relevan beberapa tahun lalu belum tentu cukup untuk menghadapi pekerjaan hari ini. Karena itu, upskilling karyawan menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi.
Namun, muncul pertanyaan yang sering dibahas: siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas upskilling? Apakah perusahaan wajib menyediakan pelatihan, atau setiap karyawan harus aktif meningkatkan kemampuannya sendiri?
Jawabannya tidak harus memilih salah satu. Perusahaan dan karyawan memiliki peran yang berbeda dalam proses upskilling.
Apa Itu Upskilling Karyawan?
Upskilling adalah proses meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki seseorang agar lebih sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Contohnya, seorang staf marketing yang sebelumnya hanya mengelola media sosial dapat mempelajari data analytics, SEO, digital advertising, atau AI untuk mendukung pekerjaannya.
Dengan upskilling, karyawan tidak harus selalu berpindah profesi. Mereka dapat memperkuat kemampuan yang sudah dimiliki agar mampu mengikuti perubahan dalam pekerjaan.
Sementara itu, jika seseorang mempelajari kemampuan yang benar-benar berbeda untuk berpindah ke bidang baru, proses tersebut lebih dekat dengan konsep reskilling.
Mengapa Upskilling Karyawan Semakin Penting?
Perkembangan teknologi membuat cara kerja banyak profesi berubah. AI, cloud computing, data analytics, otomatisasi, dan berbagai tools digital mulai digunakan dalam berbagai bidang.
Akibatnya, kebutuhan perusahaan juga ikut berubah.
Seorang karyawan mungkin sudah memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun. Namun, pengalaman tersebut perlu didukung oleh skill yang masih relevan.
Selain itu, upskilling dapat membantu karyawan menghadapi perubahan tugas. Misalnya, pekerjaan administratif yang sebelumnya dilakukan secara manual mulai menggunakan otomatisasi. Karyawan kemudian perlu memahami tools digital agar dapat mengelola proses tersebut.
Dengan begitu, upskilling bukan hanya tentang mempelajari teknologi baru. Tujuannya adalah memastikan kompetensi tetap sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Peran Perusahaan dalam Upskilling Karyawan
Perusahaan memiliki posisi penting karena perusahaan memahami kebutuhan bisnis dan kompetensi yang dibutuhkan dalam pekerjaan.
Beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan perusahaan antara lain:
1. Menyediakan Pelatihan
Perusahaan dapat menyediakan pelatihan internal, workshop, kursus, atau sertifikasi sesuai kebutuhan pekerjaan.
Pelatihan juga dapat dibuat lebih spesifik. Misalnya, tim marketing mendapatkan pelatihan digital marketing, sedangkan tim administrasi mendapatkan pelatihan Microsoft Office atau data management.
2. Mengidentifikasi Skill Gap
Perusahaan dapat melihat perbedaan antara skill yang dimiliki karyawan dengan kemampuan yang dibutuhkan.
Dari sini, perusahaan dapat menentukan pelatihan yang lebih tepat.
Misalnya, jika sebuah tim mulai menggunakan Power BI, perusahaan dapat mengidentifikasi karyawan yang membutuhkan pelatihan data visualization dan dashboard.
3. Memberikan Akses Belajar
Dukungan tidak selalu harus berupa pelatihan formal. Perusahaan juga dapat menyediakan akses ke platform pembelajaran, materi, mentoring, atau waktu khusus untuk belajar.
Dengan demikian, karyawan memiliki ruang untuk mengembangkan kompetensinya.
4. Menghubungkan Pelatihan dengan Pekerjaan
Pelatihan akan lebih bermanfaat jika hasilnya dapat digunakan dalam pekerjaan.
Karena itu, perusahaan dapat memberikan proyek atau tugas yang memungkinkan karyawan menerapkan skill baru secara langsung.
Peran Pribadi Karyawan dalam Upskilling
Di sisi lain, karyawan juga memiliki peran penting.
Perusahaan dapat menyediakan fasilitas belajar, tetapi perkembangan kompetensi tetap membutuhkan inisiatif dari individu.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan karyawan adalah:
1. Mengenali Skill yang Dibutuhkan
Karyawan perlu memahami kemampuan apa yang dibutuhkan dalam pekerjaannya.
Selain melihat kebutuhan saat ini, karyawan juga dapat memperhatikan perkembangan bidangnya dalam beberapa tahun ke depan.
2. Aktif Mencari Kesempatan Belajar
Tidak semua proses belajar harus menunggu program perusahaan.
Karyawan dapat mengikuti webinar, kursus, pelatihan, membaca materi, mengikuti komunitas, atau mengambil sertifikasi yang relevan.
3. Menerapkan Skill Baru
Belajar tanpa praktik dapat membuat kemampuan sulit berkembang.
Karena itu, skill baru sebaiknya langsung digunakan dalam pekerjaan. Misalnya, setelah belajar data visualization, karyawan dapat mencoba membuat dashboard untuk laporan tim.
4. Membangun Portofolio Kompetensi
Hasil belajar dapat didokumentasikan melalui proyek, sertifikat, laporan, atau portofolio.
Dokumentasi tersebut dapat membantu karyawan menunjukkan kemampuan yang telah dikembangkan.
Upskilling: Tanggung Jawab Bersama
Jika perusahaan dan karyawan menjalankan perannya masing-masing, proses upskilling dapat berjalan lebih efektif.
| Perusahaan | Karyawan |
|---|---|
| Mengidentifikasi kebutuhan skill organisasi | Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan diri |
| Menyediakan pelatihan | Aktif mengikuti proses belajar |
| Memberikan akses belajar | Mencari sumber belajar tambahan |
| Menyediakan kesempatan praktik | Menerapkan skill dalam pekerjaan |
| Mengevaluasi kebutuhan kompetensi | Mengevaluasi perkembangan diri |
| Menghubungkan skill dengan kebutuhan bisnis | Menghubungkan skill dengan tujuan karier |
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa upskilling tidak harus dibebankan hanya kepada satu pihak.
Perusahaan memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan dan kesempatan belajar. Sementara itu, karyawan memiliki peran dalam mengambil kesempatan tersebut dan mengembangkan kompetensinya secara aktif.
Apa yang Terjadi Jika Perusahaan Tidak Mendukung Upskilling?
Ketika kebutuhan skill berubah tetapi tidak diikuti dengan pengembangan kompetensi, karyawan dapat mengalami kesenjangan kemampuan.
Misalnya, perusahaan sudah mulai menggunakan AI untuk analisis data. Namun, karyawan belum mendapatkan pemahaman yang cukup tentang cara menggunakan AI dengan aman dan efektif.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan dapat mengalami hambatan dalam menerapkan teknologi. Karyawan juga dapat kesulitan mengikuti perubahan tugas.
Karena itu, program upskilling sebaiknya menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia, bukan hanya kegiatan tambahan.
Apa yang Terjadi Jika Karyawan Tidak Mau Upskilling?
Sebaliknya, perusahaan dapat menyediakan pelatihan, tetapi hasilnya tidak optimal jika karyawan tidak memiliki kemauan untuk belajar.
Mengikuti pelatihan saja belum tentu menghasilkan kompetensi baru. Karyawan perlu memahami materi, melakukan praktik, dan menggunakan skill tersebut dalam pekerjaan.
Selain itu, kebutuhan belajar setiap orang berbeda. Karena itu, karyawan perlu aktif menyampaikan kebutuhan kompetensinya kepada perusahaan.
Apakah Sertifikasi Termasuk Upskilling?
Sertifikasi dapat menjadi salah satu bagian dari proses upskilling, terutama ketika sertifikasi tersebut sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Misalnya, seorang digital marketer dapat mengambil sertifikasi digital marketing untuk memperkuat kompetensi profesionalnya. Karyawan yang bekerja dengan data dapat memilih program yang mendukung kemampuan data analytics atau data management.
Namun, sertifikasi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya tujuan.
Kompetensi akan lebih kuat jika sertifikasi disertai pemahaman, praktik, pengalaman, dan kemampuan menerapkan skill dalam pekerjaan.
Bagaimana Perusahaan Membuat Program Upskilling yang Efektif?
Program upskilling tidak harus selalu besar dan mahal. Yang lebih penting adalah kesesuaiannya dengan kebutuhan organisasi.
Perusahaan dapat memulainya dengan beberapa langkah:
Pertama, identifikasi skill gap. Tentukan kemampuan apa yang sudah dimiliki dan kemampuan apa yang masih dibutuhkan.
Kedua, tentukan prioritas. Tidak semua skill harus dipelajari sekaligus. Pilih kemampuan yang paling relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
Ketiga, pilih metode belajar. Pelatihan dapat dilakukan secara online, offline, hybrid, workshop, mentoring, atau sertifikasi.
Keempat, berikan kesempatan praktik. Karyawan perlu menerapkan skill yang dipelajari dalam pekerjaan nyata.
Kelima, evaluasi hasilnya. Perusahaan dapat melihat apakah skill baru benar-benar membantu pekerjaan menjadi lebih efektif.
Contoh Upskilling Berdasarkan Bidang Pekerjaan
Kebutuhan upskilling dapat berbeda untuk setiap posisi.
| Bidang | Contoh Skill yang Dapat Dikembangkan |
|---|---|
| Marketing | Digital Marketing, SEO, Social Media, AI |
| Administrasi | Microsoft Office, Data Management, AI Productivity |
| HR | HR Analytics, Data Visualization, AI |
| Finance | Excel, Power BI, Data Analytics |
| Pendidikan | AI, Digital Tools, Data Literacy |
| IT | Cloud, Cybersecurity, AI, Automation |
| Data | Data Analytics, Data Science, Visualization |
| Project Management | Project Management, Risk Management, Digital Tools |
Daftar tersebut bukan berarti setiap profesi harus menguasai semua skill. Pemilihan kompetensi tetap perlu disesuaikan dengan pekerjaan dan tujuan organisasi.
Bagaimana Karyawan Menentukan Skill yang Perlu Dipelajari?
Karyawan dapat menggunakan pendekatan sederhana dengan melihat tiga hal.
Pertama, pekerjaan saat ini. Skill apa yang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efektif?
Kedua, perkembangan industri. Teknologi atau metode apa yang mulai digunakan dalam bidang tersebut?
Ketiga, tujuan karier. Kemampuan apa yang dibutuhkan untuk mencapai posisi atau bidang yang ingin dituju?
Dari tiga pertanyaan tersebut, karyawan dapat membuat prioritas belajar.
Dengan begitu, upskilling tidak dilakukan hanya karena mengikuti tren. Setiap skill yang dipelajari memiliki alasan dan tujuan yang jelas.
Upskilling Bukan Sekadar Mengikuti Tren
AI dan teknologi baru memang banyak dibicarakan. Namun, tidak semua skill yang sedang populer harus dipelajari oleh setiap karyawan.
Yang lebih penting adalah relevansi.
Seorang karyawan perlu memahami masalah pekerjaan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah menentukan teknologi atau skill yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Pendekatan ini membuat proses upskilling lebih terarah. Selain itu, perusahaan juga dapat menghindari pelatihan yang tidak memiliki hubungan dengan kebutuhan pekerjaan.
Membangun Budaya Belajar di Tempat Kerja
Upskilling akan lebih mudah dilakukan jika perusahaan memiliki budaya belajar.
Budaya tersebut dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana. Misalnya, berbagi pengetahuan antaranggota tim, memberikan kesempatan mencoba tools baru, mengadakan sesi belajar rutin, atau menyediakan akses pelatihan.
Di sisi lain, karyawan juga perlu melihat belajar sebagai bagian dari pekerjaan, bukan hanya kewajiban tambahan.
Dengan budaya belajar yang baik, proses pengembangan kompetensi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Tingkatkan Kompetensi Bersama IBLU Academy
Upskilling akan lebih efektif jika program pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan dan organisasi.
IBLU Academy menyediakan berbagai pelatihan dan sertifikasi yang dapat mendukung pengembangan kompetensi individu maupun perusahaan. Program dapat mencakup digital marketing, Microsoft, AI, data, serta sertifikasi kompetensi BNSP dan internasional.
Bagi perusahaan, program pelatihan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan melalui skema in-house training.
Hubungi IBLU Academy sekarang untuk mendapatkan informasi program, jadwal, dan pilihan pelatihan yang tersedia.