Kenapa Sebagian Orang Masih Skeptis dengan AI di Tempat Kerja?

Mengapa Sebagian Orang Masih Skeptis terhadap AI di Tempat Kerja?

Penggunaan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dibicarakan di dunia kerja. Teknologi ini dapat membantu membuat dokumen, merangkum informasi, mengolah data, hingga menyelesaikan tugas tertentu dengan lebih cepat.

Namun, tidak semua orang menyambut perubahan tersebut dengan antusias. Sebagian karyawan justru masih ragu menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari.

Ada yang khawatir pekerjaannya akan tergantikan. Ada pula yang mempertanyakan keakuratan informasi, keamanan data, hingga dampak AI terhadap kemampuan manusia.

Fenomena skeptis terhadap AI di tempat kerja sebenarnya memiliki berbagai alasan. Sikap tersebut tidak selalu menunjukkan penolakan terhadap teknologi. Bisa jadi, karyawan hanya ingin memahami risiko sebelum menggunakannya.

Lalu, apa saja penyebabnya?

1. Takut Kehilangan Pekerjaan karena AI

Salah satu alasan utama seseorang skeptis terhadap AI adalah kekhawatiran kehilangan pekerjaan.

Saat ini, AI dapat membantu mengerjakan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan manusia. Contohnya membuat draf tulisan, menyusun laporan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan mengolah informasi.

Kondisi tersebut membuat sebagian karyawan bertanya-tanya: apakah pekerjaan mereka masih dibutuhkan ketika AI semakin berkembang?

Kekhawatiran ini juga terlihat dalam sejumlah survei. Pew Research Center pada Februari 2025 melaporkan bahwa 52% pekerja di Amerika Serikat merasa khawatir terhadap penggunaan AI di tempat kerja pada masa depan. Selain itu, 32% responden memperkirakan AI dapat mengurangi peluang kerja mereka dalam jangka panjang.

Meski demikian, kemampuan AI dalam mengerjakan tugas tertentu tidak otomatis berarti seluruh profesi akan hilang. Banyak pekerjaan terdiri dari beberapa tugas yang masih membutuhkan komunikasi, penilaian, kreativitas, dan tanggung jawab manusia.

2. Meragukan Keakuratan Hasil AI

Alasan berikutnya adalah masalah kepercayaan terhadap hasil yang diberikan AI.

AI memang dapat menghasilkan jawaban dengan cepat dan menggunakan bahasa yang terlihat meyakinkan. Namun, jawaban tersebut belum tentu benar.

Dalam beberapa kondisi, AI dapat memberikan informasi yang tidak sesuai fakta, angka yang keliru, atau sumber yang tidak dapat diverifikasi.

Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, seperti keuangan, penelitian, hukum, dan pengelolaan data.

Karena itu, sebagian karyawan memilih untuk memeriksa informasi secara manual sebelum menggunakan hasil AI.

Sikap kritis tersebut penting. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

3. Khawatir terhadap Keamanan dan Privasi Data

Tidak semua informasi perusahaan boleh dimasukkan ke dalam aplikasi AI.

Karyawan mungkin perlu mengolah laporan internal, data pelanggan, dokumen keuangan, atau informasi strategis perusahaan. Jika informasi tersebut dimasukkan ke platform yang tidak disetujui organisasi, risiko kebocoran data dapat muncul.

Selain itu, setiap platform AI memiliki kebijakan pengelolaan data yang berbeda.

Karena itu, kekhawatiran terhadap privasi bukan sekadar alasan untuk menolak teknologi. Perusahaan memang perlu memastikan bahwa penggunaan AI mengikuti aturan keamanan informasi.

Sebelum menggunakan AI, karyawan perlu memahami:

  • Jenis data yang boleh dimasukkan.
  • Platform AI yang telah disetujui perusahaan.
  • Kebijakan penyimpanan dan penggunaan data.
  • Batasan penggunaan informasi pelanggan.
  • Prosedur pemeriksaan sebelum membagikan hasil AI.

Dengan aturan yang jelas, karyawan dapat menggunakan AI tanpa mengabaikan keamanan informasi.

4. Takut Kehilangan Kemampuan Berpikir dan Kreativitas

Sebagian orang juga khawatir penggunaan AI secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir mandiri.

Contohnya, karyawan yang selalu meminta AI membuat laporan mungkin menjadi kurang terbiasa menyusun analisis sendiri. Begitu pula dengan pekerja kreatif yang terlalu bergantung pada ide dari AI.

Kekhawatiran ini berkaitan dengan risiko ketergantungan terhadap teknologi.

Sebuah survei Henley Business School terhadap 2.900 pekerja penuh waktu di Inggris pada 2026 menemukan bahwa 42% responden khawatir menjadi terlalu bergantung pada AI. Selain itu, 35% khawatir kehilangan keterampilan dan 28% mengkhawatirkan kesulitan mengenali kesalahan atau bias pada hasil AI.

Namun, dampaknya juga bergantung pada cara penggunaan.

Jika AI digunakan untuk mencari alternatif ide, membantu menyusun kerangka, atau memberikan sudut pandang tambahan, teknologi ini justru dapat mendukung proses berpikir.

Kuncinya adalah tetap melibatkan kemampuan manusia dalam menganalisis dan mengambil keputusan.

5. Belum Memahami Cara Menggunakan AI

Tidak semua karyawan memiliki tingkat pemahaman teknologi yang sama.

Sebagian orang mungkin sudah terbiasa menggunakan ChatGPT, Gemini, atau Copilot. Namun, sebagian lainnya masih bingung menentukan aplikasi yang sesuai dan cara memberikan instruksi.

Akibatnya, mereka mungkin merasa AI terlalu rumit atau tidak memberikan manfaat yang jelas.

Padahal, hasil AI sangat dipengaruhi oleh instruksi atau prompt yang diberikan.

Misalnya, perintah “buatkan laporan” masih terlalu umum. Sebaliknya, instruksi yang menjelaskan tujuan laporan, data yang digunakan, format, dan target pembaca dapat menghasilkan output yang lebih terarah.

Karena itu, pelatihan AI literacy dibutuhkan agar karyawan memahami cara kerja, manfaat, batasan, dan risiko penggunaan AI.

6. Merasa AI Tidak Sesuai dengan Kebutuhan Pekerjaan

AI memang memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak semua tugas cocok dikerjakan menggunakan teknologi ini.

Ada pekerjaan yang membutuhkan interaksi langsung, keterampilan fisik, pemahaman kondisi lapangan, atau hubungan personal dengan pelanggan.

Sebagai contoh, AI dapat membantu tenaga pendidik menyusun materi pembelajaran. Namun, proses memahami kondisi peserta didik dan membangun interaksi tetap membutuhkan peran pendidik.

Begitu pula dalam pekerjaan pelayanan pelanggan. AI dapat membantu menjawab pertanyaan umum, tetapi persoalan yang rumit mungkin membutuhkan komunikasi langsung dengan petugas.

Dengan demikian, penggunaan AI perlu disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan. Tidak semua proses harus diotomatisasi.

7. Perusahaan Belum Memiliki Aturan Penggunaan AI yang Jelas

Karyawan juga bisa merasa ragu karena belum mengetahui batasan penggunaan AI di lingkungan kerja.

Misalnya, apakah mereka boleh menggunakan ChatGPT untuk membuat laporan? Apakah data pelanggan boleh dianalisis menggunakan AI? Apakah hasil AI harus diperiksa oleh atasan sebelum dikirim kepada klien?

Jika perusahaan belum memiliki kebijakan yang jelas, karyawan mungkin memilih untuk tidak menggunakan AI karena takut melakukan kesalahan.

Temuan PwC dalam Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan adanya tantangan kepercayaan, dukungan organisasi, dan kesenjangan pemanfaatan AI di kalangan pekerja Indonesia. Survei tersebut mencakup 812 responden Indonesia dari total hampir 50.000 pekerja di 48 negara.

Karena itu, perusahaan perlu membuat pedoman yang mudah dipahami. Pedoman tersebut dapat menjelaskan platform yang diperbolehkan, jenis data yang dapat digunakan, serta tanggung jawab karyawan dalam memeriksa hasil AI.

Apakah Skeptis terhadap AI Selalu Berarti Buruk?

Tidak selalu.

Skeptis terhadap AI dapat menjadi bentuk kehati-hatian ketika seseorang ingin memastikan teknologi yang digunakan benar-benar aman dan sesuai kebutuhan.

Justru, penggunaan AI tanpa pertimbangan dapat menimbulkan masalah. Misalnya, informasi yang belum diverifikasi langsung dibagikan kepada pelanggan atau dokumen rahasia dimasukkan ke aplikasi yang tidak disetujui perusahaan.

Namun, skeptisisme juga perlu diimbangi dengan kemauan untuk belajar.

Jika seseorang terus menolak memahami teknologi, ia dapat kehilangan kesempatan untuk mengenali manfaat AI dalam pekerjaannya.

Karena itu, pendekatan yang dapat diterapkan adalah sikap terbuka tetapi tetap kritis. Kenali manfaatnya, pahami risikonya, lalu gunakan AI sesuai kebutuhan.

Bagaimana Cara Membangun Kepercayaan terhadap AI di Tempat Kerja?

Membangun kepercayaan tidak cukup hanya dengan meminta karyawan menggunakan teknologi baru. Perusahaan perlu memberikan pemahaman dan kesempatan untuk mencoba.

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.

1. Mulai dari Tugas Sederhana

Karyawan tidak harus langsung menggunakan AI untuk pekerjaan yang kompleks.

Mulailah dari tugas sederhana, seperti merangkum dokumen, membuat kerangka presentasi, menyusun ide konten, atau memperbaiki tata bahasa.

Dengan begitu, karyawan dapat mengenali manfaat AI secara bertahap.

2. Berikan Pelatihan AI kepada Karyawan

Pelatihan membantu karyawan memahami cara menggunakan AI sesuai kebutuhan pekerjaan.

Materi dapat mencakup dasar penggunaan AI, prompt engineering, pemeriksaan hasil, keamanan data, hingga penerapan AI untuk produktivitas.

Selain itu, pelatihan sebaiknya menggunakan contoh yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

3. Buat Kebijakan Penggunaan AI

Perusahaan perlu menetapkan aturan yang jelas agar karyawan mengetahui batasan penggunaan teknologi.

Kebijakan tersebut dapat mencakup keamanan data, transparansi penggunaan AI, pemeriksaan hasil, dan tanggung jawab pengguna.

4. Tetap Libatkan Manusia dalam Pengambilan Keputusan

AI dapat membantu memberikan informasi dan rekomendasi. Namun, keputusan yang memiliki dampak penting tetap membutuhkan pemeriksaan dan pertimbangan manusia.

Dengan cara ini, AI menjadi pendukung pekerjaan tanpa menghilangkan tanggung jawab profesional.

5. Evaluasi Manfaat Penggunaan AI

Perusahaan perlu mengukur apakah penggunaan AI benar-benar membantu pekerjaan.

Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat waktu penyelesaian tugas, kualitas hasil, tingkat kesalahan, dan tanggapan karyawan.

Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan penggunaan AI berikutnya.

Skill Apa yang Dibutuhkan agar Karyawan Lebih Siap Menggunakan AI?

Menggunakan AI bukan hanya soal mengetahui nama aplikasi atau cara membuka chatbot. Karyawan juga membutuhkan kemampuan untuk mengarahkan, menilai, dan menerapkan hasil teknologi tersebut.

Beberapa skill yang dapat dikembangkan meliputi:

SkillManfaat dalam Pekerjaan
AI LiteracyMemahami kemampuan dan batasan AI
Prompt EngineeringMemberikan instruksi yang lebih jelas kepada AI
Critical ThinkingMemeriksa dan menilai hasil AI
Data LiteracyMemahami serta mengolah informasi berbasis data
Digital CommunicationMenggunakan teknologi untuk mendukung komunikasi
Problem SolvingMemanfaatkan AI untuk membantu menyelesaikan masalah
Data Security AwarenessMenjaga informasi saat menggunakan aplikasi AI

Skill tersebut dapat dipelajari secara bertahap sesuai kebutuhan profesi.

Misalnya, tim marketing dapat mempelajari AI untuk riset pasar dan pembuatan konten. Sementara itu, staf administrasi dapat mengembangkan kemampuan menggunakan AI untuk pengolahan dokumen dan produktivitas.

Perusahaan Perlu Membangun Budaya Kerja yang Adaptif terhadap AI

Keberhasilan penerapan AI tidak hanya bergantung pada aplikasi yang digunakan. Faktor manusia juga memiliki peran penting.

Perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang memberikan ruang bagi karyawan untuk belajar dan mencoba teknologi baru.

Selain itu, karyawan perlu diberi kesempatan menyampaikan kendala selama menggunakan AI. Masukan tersebut dapat membantu perusahaan memahami kebutuhan nyata di lapangan.

Dengan komunikasi yang terbuka, penerapan AI tidak hanya menjadi instruksi dari manajemen. Teknologi dapat dikembangkan sebagai bagian dari proses kerja yang melibatkan seluruh tim.

Tingkatkan Pemahaman AI Bersama IBLU Academy

Memahami alasan seseorang masih skeptis terhadap AI merupakan langkah awal untuk membangun lingkungan kerja yang lebih siap menghadapi perubahan teknologi.

Namun, pemahaman perlu dilanjutkan dengan praktik. Karyawan perlu mengetahui cara menggunakan AI, membuat prompt yang tepat, memeriksa hasil, serta menjaga keamanan data.

IBLU Academy menyediakan berbagai program pelatihan dan sertifikasi untuk membantu individu maupun perusahaan meningkatkan kompetensi digital. Program dapat mencakup AI for Productivity, AI for Academic Research, Generative AI Foundations, Microsoft, data, dan bidang digital lainnya sesuai kebutuhan.

Melalui pelatihan yang relevan, perusahaan dapat membantu karyawan mengenali manfaat AI sekaligus memahami batasan penggunaannya.

Hubungi IBLU Academy sekarang untuk mendapatkan informasi program, jadwal, dan pilihan pelatihan yang tersedia.

Leave a Reply