
Kuantitas AI meningkat , Tapi Mau Kurangi Screen Time
Menurut Dentsu Creative, 53% konsumen menyatakan mereka menggunakan AI dalam keseharian. Tetapi hampir setengahnya (50%) berusaha mengurangi waktu layar (screen time). Marketing Dive
Data itu mengungkap dilema baru yakni di satu sisi konsumen memanfaatkan kecanggihan teknologi. Di sisi lain mereka mendambakan keseimbangan dengan kehidupan “analog”, koneksi nyata, dan detoks digital.
Bagi pemasar dan brand, fakta ini berarti bahwa strategi digital harus makin pintar: bukan sekadar mengejar klik atau impresi, tetapi juga peka terhadap keinginan audiens untuk jeda, ketenangan, dan pengalaman manusiawi.
Keberadaan Digital Marketing pada Tantangan ini
Untuk adaptasi terhadap konsumen yang hidup di dua dunia — digital + analog — berikut beberapa pendekatan efektif:
- Content marketing yang menggabungkan digital & human touch
Buat konten tidak hanya via AI atau algoritma, tapi gabungkan elemen storytelling manusia—cerita, emosi, nilai. Konsumen tidak hanya butuh informasi, tetapi pengalaman yang terasa “nyata”. - Kampanye multi-kanal dengan jeda interaksi
Misalnya padukan materi digital dengan acara offline, komunitas, atau aktivitas real-world. Dengan demikian, brand memberi ruang bagi konsumen untuk “off-screen” tanpa memutus relasi brand-consumer. - Gunakan AI sebagai backend, bukan pengganti kreatif
AI cocok dipakai untuk analisa data audiens, automasi distribusi, atau personalisasi konten. Tapi ide kreatif, tone, dan nilai unik brand tetap harus dari manusia — agar terasa autentik dan relevan. - Segmentasi berdasarkan preferensi konsumsi konten
Karena ada konsumen yang aktif digital, ada pula yang menghindari layar — segmentasikan audiens berdasarkan kebiasaan, lalu sesuaikan pendekatan: konten berat, ringan, visual, atau materi offline.
Urgensi Marketing pada Market era digital 2026
Dengan proyeksi dari Dentsu bahwa 2026 akan memasuki “Algorithmic Era” di mana spending iklan global melampaui US$1 triliun, persaingan brand akan makin ketat. dentsu+1
Dalam lingkungan seperti itu, brand yang hanya mengejar algoritma bisa tenggelam: karena target sudah peka terhadap “kelebihan digital”, mereka menginginkan keseimbangan, otentisitas, dan kedalaman emosional.
Oleh karenanya, pemenang bukan hanya mereka yang menguasai teknologi, tetapi yang bisa menggabungkan kepintaran data + kreativitas manusia + empati ke audiens.